Dasar yang Terlupakan: Pintar Pakai Canva, Tapi hasilnya?
Di era digital saat ini, akses terhadap alat pembuat konten visual menjadi sangat mudah. Selain itu, Kehadiran platform desain instan seperti Canva telah merevolusi cara kita membuat grafis. Hanya dengan beberapa klik, seret, dan lepas siapa pun bisa menciptakan desain. Sekarang, membuat poster, unggahan media sosial, hingga presentasi kini bisa dilakukan dalam hitungan menit. Fenomena ini melahirkan gelombang baru di mana semua orang merasa bisa menjadi seorang desainer.
Sekarang ada sebuah jurang pemisah yang besar antara menjadi seorang "operator tools" dan menjadi seorang "desainer grafis". Banyak orang yang sangat mahir mengoperasikan Canva, mengombinasikan puluhan elemen dekoratif, dan menggunakan template modern. Namun, ada hal dasar yang terlupakan, mereka tidak tahu arti dan esensi dari sebuah desain yang sebenarnya. Desain bukan hanya menghias, ini merupakan metode untuk menyampaikan pesan secara jelas lewat visual dan komunikasi visual yang terstruktur. Oleh karena itu, Ketika ada fondasi dasar yang terlupakan, estetika yang dihasilkan sering kali menjadi kosong dan gagal menyampaikan pesan.
Berikut adalah pembahasan hal-hal dasar yang terlupakan dalam desain grafis di era konten serba instan saat ini.
1. Hierarki Visual, Hal Dasar Yang Terlupakan dan Paling Umum
Hal dasar yang terlupakan dalam desain grafis, dan paling umum yang sering dijumpai pada desain amatir adalah ketiadaan hierarki. Jika dilansir dari Interaction Design Foundation, hierarki visual adalah prinsip mengatur elemen-elemen berdasarkan tingkat kepentingannya di layar atau halaman. Namun, Banyak pembuat konten ingin semua informasi dalam desain mereka terlihat menonjol. Akibatnya, mereka membuat ukuran teks judul, subjudul, dan nomor kontak sama besarnya. Selain itu, ada juga yang memberikan warna-warna terang yang saling bertabrakan pada setiap elemen.
Hierarki visual adalah ilmu tentang bagaimana mengarahkan pandangan audiens. Desain yang sukses harus mampu menuntun mata pembaca untuk melihat informasi paling penting terlebih dahulu (elemen primer), kemudian bergerak ke informasi pendukung (elemen sekunder), hingga akhirnya ke detail terkecil (elemen tersier).
melalui beberapa aspek berikut, hal dasar yang terlupakan dan paling umum ini akan menjadi keunggulan utama dalam desainmu:
Ukuran (Scale): Judul utama harus jauh lebih besar daripada teks pendukung.
Warna dan Kontras: Gunakan warna yang mencolok atau kontras tinggi hanya pada poin utama. contonya pada tombol ajakan (CTA) atau kalimat promosi utama.
Ketebalan Font (Weight): Memadukan font tebal (bold) untuk judul dan font reguler untuk isi teks. Hal ini akan langsung menciptakan pemisahan struktur informasi yang jelas.
Tanpa hal dasar yang terlupakan ini, desain Anda hanya akan menjadi tumpukan teks yang tidak fokus.
2. Hal Dasar Yang Terlupakan dan Dipengaruhi Psikologis: area kosong (White Space)
Ada sebuah kecenderungan psikologis bagi desainer pemula untuk memenuhi setiap jengkal kanvas digital mereka. banyak yang menganggap ruang yang kosong sebagai area "sia-sia" yang harus diisi. Ini adalah hal dasar yang terlupakan kedua, dimana justru merusak kualitas sebuah karya visual.
White space (atau negative space) bukan berarti ruang harus berwarna putih. ini adalah istilah untuk area kosong di antara elemen-elemen desain. Fungsi white space sangatlah vital, antara lain:
Memberi Ruang Bernapas: Ruang kosong memberikan istirahat visual bagi mata audiens agar tidak merasa jenuh.
Meningkatkan Keterbacaan (Readability): ruang kosong yang cukup akan membuat teks jauh lebih mudah dibaca dan dipahami.
Menciptakan Kesan Elegan dan Profesional: Perhatikan desain-desain dari brand besar seperti Apple. Mereka menggunakan white space secara masif. Cara ini memberi kesan rapi, profesional, dan menonjolkan produk utama.
Jangan takut dengan ruang kosong. Biarkan desainmu bernapas, agar pesan di dalamnya dapat tersampaikan dengan lebih kuat.
3. Mengabaikan Psikologi Warna dan Kontras
Memilih warna untuk sebuah desain sering kali hanya didasarkan pada warna favorit si pembuatnya. Padahal, setiap warna memiliki getaran psikologis dan mampu memicu emosi tertentu pada audiens yang melihatnya.
Misalnya, warna biru sering dikaitkan dengan kepercayaan, profesionalisme, dan keamanan. Karena itulah banyak bank dan platform teknologi menggunakannya. Sementara itu, warna merah memicu urgensi, gairah, dan nafsu makan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa mamilih warna tanpa riset dan tujuan yang jelas akan membuat pesan visual menjadi bias. Tak Hanya itu, secara psikologis anak remaja akan lebih mudah tertarik terhadap warna cerah.
Selain itu, masalah yang sering dilupakan adalah kontras. Menempatkan teks berwarna kuning terang di atas latar belakang putih, atau teks abu-abu di atas latar belakang hitam. Pemilihan warna ini justru akan menyiksa mata audiens. Oleh karena itu, Desain yang baik selalu memprioritaskan fungsi keterbacaan di atas ego estetika. Pastikan ada kontras yang kuat antara latar belakang dengan elemen di depannya.
4. Sindrom Font Berlebihan (Tipografi yang Buruk)
Canva dan aplikasi sejenis menyediakan ribuan pilihan jenis huruf (font) yang sangat menarik. Hal ini sering kali memicu "sindrom desainer pemula", yaitu keinginan untuk menggunakan tiga, empat, bahkan lima jenis font yang berbeda dalam satu halaman desain.
Hasilnya? Desain terlihat berantakan, tidak konsisten, dan sangat amatir. Aturan dasar dalam tipografi adalah batasi penggunaan font maksimal dua jenis saja dalam satu proyek desain. Oleh karina itu, akan lebih efektif memilih dua font yang benar benar cocok dalam satu desain. Sebagai Contoh, memilih Font yang unik atau memiliki karakter kuat untuk judul (display font), dan satu font yang bersih serta mudah dibaca untuk teks tubuh (body font, seperti rumpun Sans-serif).
Konsistensi adalah kunci. Jika Anda sudah menetapkan satu jenis font untuk subjudul di halaman pertama, maka gunakan font yang sama persis untuk subjudul di halaman-halaman berikutnya.
Kesimpulan
Menguasai platform desain instan seperti Canva adalah sebuah keuntungan besar di era modern ini. Karena, dengan demikian proses eksekusi kerja jadi jauh lebih cepat. Namun, software hanyalah sebuah alat eksekusi. Jiwa dari sebuah karya visual terletak pada pemahaman kita terhadap prinsip-prinsip dasar desain grafis itu sendiri.
Menjadi desainer berarti tahu alasan menempatkan bentuk, warna, dan ruang kosong di desainmu, bukan sekadar menaruh tanpa alasan. Dengan demikian, Ketika kamu memulai membuat desain, perasaanmu akan masuk ke dalam desain tersebut. Kemudian, Ketika kamu mulai menggeser fokus dari sekadar "membuat gambar yang ramai" menjadi "menyampaikan pesan dengan fungsional", saat itulah Anda telah melangkah dari seorang operator platform menjadi seorang desainer grafis yang sesungguhnya.
Baca juga Artikel saya yang lain Tentang Digital Marketing di Medium, https://medium.com/@rifaldowidyai
Selain itu, saya juga aktif di blogger dengan tema jaringan Komputer : https://www.blogger.com/profile/06292557789911390737

mantap poool
BalasHapus